Wali Kota Palu Dorong Sinergi Kampus dan Komunitas untuk Atasi Persoalan Kota
Agen Berita Palu– Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pemerintahan yang terbuka dan kolaboratif. Dalam sebuah diskusi terbuka yang digelar di Ruang Bantaya, Kantor Wali Kota Palu, ia mengajak pimpinan kampus, komunitas, serta organisasi masyarakat untuk bersinergi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Kota Palu.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut janji Hadianto saat menemui massa aksi di halaman DPRD Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Hadir dalam kesempatan tersebut pimpinan perguruan tinggi, komunitas ojek online, organisasi masyarakat, serta seluruh kepala dinas di lingkup Pemkot Palu.
Membangun Ruang Dialog dan Sinergi
Hadianto menekankan bahwa persoalan kota tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah. Diperlukan keterlibatan aktif akademisi dengan riset dan kajian ilmiah, komunitas dengan aksi sosialnya, serta masyarakat dengan partisipasi langsung.
Diskusi tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari operasional Bus Trans Palu sebagai moda transportasi publik utama, pajak bumi dan bangunan (PBB-P2), pajak makan-minum, hingga penertiban parkir liar yang kerap dikeluhkan warga.
Pemerintah kota berkomitmen untuk membuka ruang dialog berkelanjutan, sehingga kebijakan tidak hanya lahir dari meja birokrasi, tetapi juga dari hasil tukar pikiran bersama masyarakat.
Persoalan Lokal Utama Kota Palu

Baca Juga: Gempa M5,0 Pagi Hari di Sulawesi Tengah Warga Rasakan Guncangan Kuat
1. Masalah Lingkungan dan Tata Ruang
-
Pengelolaan Sampah Belum Optimal
Timbulan sampah di Palu terus meningkat, sementara sarana pengangkutan, TPS3R, dan bank sampah masih terbatas. Kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya juga menjadi pekerjaan rumah yang besar. -
Tata Ruang Berbasis Bencana
Palu dikenal sebagai salah satu kota paling rawan bencana di Indonesia. Namun, masih ada pembangunan di zona merah bencana. Penegakan hukum tata ruang dan koordinasi antarinstansi menjadi tantangan serius. -
Kerusakan Lingkungan akibat Pertambangan
Aktivitas pertambangan di sekitar kota menimbulkan dampak ekologis yang, bila tidak dikendalikan, berpotensi merusak keseimbangan lingkungan jangka panjang.
2. Persoalan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
-
Stagnasi Ekonomi dan Kemiskinan
Dunia usaha menilai iklim investasi di Palu masih stagnan. Hal ini berdampak pada terbatasnya lapangan kerja. Data BPS mencatat angka kemiskinan masih cukup tinggi. -
Gelandangan dan Pengemis (Gepeng)
Penanganan gepeng belum maksimal karena terbatasnya anggaran, validasi data yang lemah, dan faktor sosial budaya yang kompleks. -
Permukiman Kumuh dan Relokasi
Pertumbuhan penduduk, terutama masyarakat berpenghasilan rendah, memicu munculnya permukiman ilegal di bantaran sungai dan pantai. Program relokasi sering menimbulkan masalah baru terkait penyesuaian ekonomi dan sosial.
3. Masalah Sosial dan Infrastruktur
-
Konflik Komunal
Sejumlah kelurahan seperti Nunu dan Tavanjuka memiliki riwayat konflik komunal. -
Transportasi dan Fasilitas Publik
Sistem transportasi umum masih minim. Masyarakat bergantung pada kendaraan pribadi, sehingga rawan macet dan polusi. Selain itu, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) masih jauh dari standar ideal. -
Infrastruktur Dasar Belum Merata
Akses air bersih dan pengelolaan limbah domestik masih terbatas di sejumlah kawasan. Keterbatasan anggaran dan rendahnya kepedulian warga terhadap pemeliharaan memperparah situasi.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Palu ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kemitraan kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Melalui sinergi tersebut, kebijakan yang lahir tidak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi juga benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Hadianto menegaskan bahwa Pemkot Palu berkomitmen untuk transparan, partisipatif, dan berkelanjutan dalam setiap pengambilan keputusan.





